Kabar Baik Di Rabu Fajr

Seperti biasanya, fajr hari ini aku dibangunkan istriku. Setelah meneguk segelas air putih, aku bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Shubuh, tak lupa sebelumnya dengan sunnah Fajr 2 rakaat. Kebiasaanku sholat di luar kamar karena tidak tahan dengan dinginnya kipas angin yang berhembus, menerpa kulitku yang masih basah dan lembab oleh air wudhu. Baca lebih lanjut

Iklan

Jangan Sampai Pernikahan Menjadi Ajang Kumpul Kebo

“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”.

— HR. al-Arba’ah (kecuali an-Nasa’i)

Sepatutnya… sebagai seorang Muslim yang telah menikah dan masih memiliki istri, kita haruslah benar-benar takut dan berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan karena Hadits di atas, terutama dalam perihal yang saya tebalkan, yaitu talak. Bila bercandanya kita saja dalam mengucapkan perkataan talak (lafazh shorih/ucapan yang tegas) sudah dianggap serius oleh Allah SWT, maka itu pula menjadi suatu pertanda bahwa hukumNya telah jatuh pada diri kita.

Satu-dua kali kata talak kita ucapkan, dan jatuh menurut hukum Islam, mungkin masih bisa dengan mudah dimaafkan oleh Allah SWT apabila kita menyesalinya, caranya yaitu dengan rujuk atau dengan akad kembali bila telah melewati masa ‘iddah sang istri. Tapi TIDAK untuk talak yang ketiga! Kenapa? Karena kalau sudah jatuh ucapan talak untuk ketiga kalinya, maka tidak ada lagi yang namanya dispensasi rujuk kembali dari Allah SWT, dengan atau tidak melalui akad yang baru, kecuali apabila sang istri telah menikah dengan orang lain secara sah dan benar menurut ajaran Islam dan lalu bercerai (dan beberapa syarat lainnya).

Nah, sekarang coba Anda bayangkan… apa jadinya bila pasangan suami-istri yang tidak peduli dengan hukum Islam tentang hal ini, lalu sang suami maen asal ucap ketika sedang marah dalam pertengkaran rumah tangganya, tidakkah disadari bahwa sangat mungkin ada perkataan talak yang keluar dari mulut sang suami? Baik melalui lafazh shorih/ucapan yang tegas maupun melalui lafazh kinayah/ucapan kiasan dapat yang menjatuhkan talak bila niatannya memang serius? Sejujurnya, bagi Muslim yang telah mengetahui dan menyadari hukum ini saja terkadang masih sangat susah untuk menjaga mulutnya dari perkataan talak apabila sedang marah, apalagi bagi mereka yang tidak menyadarinya!

Dan mengulang tulisan di atas, satu-dua kali mungkin masih bisa “diterima” oleh Allah SWT untuk rujuk kembali walaupun tata caranya juga seharusnya sesuai tuntunanNya (yaitu dengan ucapan bil-kalam atau perbuatan bil-fi’li). Lalu bagaimana bila talak itu telah jatuh tiga kali (3x) dan pasangan suami-istri tersebut tidak menyadarinya? Atau mungkin lebih tepatnya, tidak ingin menyadarinya, karena bagaimana seorang mengaku Muslim tapi tidak menyadari hukum agamanya sendiri? Setidaknya walaupun mereka tidak mempelajarinya, ketika mereka berakad nikah pun pastilah diberikan nasehat pernikahan oleh penghulu atau seorang ustadz bukan? Dan saya yakin, salah satu hal pokok dalam nasehat pernikahan itu tentu membahas tentang hukum talak, insya Allah demikian adanya!

Kalau sudah tidak disadari bahwa talak tiga itu hukumnya adalah perceraian, tidak ada rujuk (dengan atau tidak melalui akad yang baru), tapi mereka tetap saja terus berumah tangga dengan seperti tidak ada kejadian apa-apa, lalu disebut apakah pasangan suami-istri tersebut kalau bukan kumpul kebo di hadapan Allah SWT? Na’uudzubillaahi min dzaalik, semoga kita semua terlindung dari hal itu!

*/**

Penulis tertarik untuk menulis ini karena telah beberapa kali menemui hal ini di sekitar kehidupan masyarakat, baik itu teman, tetangga bahkan turut pula terjadi pada keluarga jauh penulis. Seseorang bibi yang nyata-nyata telah 3x (tiga kali) ditalak, malah meminta kepada keluarga untuk dirujukkan kembali dengan suaminya (atas bujukan suaminya itu juga yang menyesal). Syukurlah keluarga mengetahui duduk persoalan hal ini dan menolak tegas keinginan sang bibi tersebut karena memang jelas bertentangan dengan hukum Islam.

Kasus di atas bisa dihindari karena adanya pengakuan dari pasangan suami-istri kepada keluarga mereka. Lalu apa yang bakal terjadi bila pasutri yang jelas-jelas seharusnya bercerai karena jatuhnya talak tiga, tetapi keluarga atau masyarakat lain tidak mengetahuinya karena mereka tidak pernah bercerita, dan pasutri tersebut tetap meneruskan kehidupan serumah karena masih cinta? Itulah yang penulis katakan sebagai kumpul kebo di hadapan Allah SWT, tetapi di mata manusia lain mereka masih “sah” sebagai pasutri. Lagi-lagi na’uudzubillaahi min dzaalik, semoga iman kita yang masih rendah ini sekalipun masih bisa menyadarkan dan menjauhkan kita dari perbuatan tersebut!

 Semoga tulisan ini bermanfaat… terkhusus bagi diri saya sendiri dan bagi ummat, aaamiin!

———————————————————————–

*Contoh kasus di atas hanyalah untuk memadankan dengan tulisan ini, bukan untuk membongkar atau membuka ‘aib orang lain, apalagi keluarga sendiri!

**Penulis bukanlah seorang yang biasa dipanggil ustadz, bukan ahli yang berkompeten di bidang hukum–khususnya pernikahan–Islam. Pembahasannya dalam tulisan ini juga tidak ditulis secara panjang lebar dan komprehensif, hanya mengurai atau lebih cocoknya mengutip sebagian kecilnya saja untuk dipadankan dengan fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan penulis. Untuk lebih jelasnya mempelajari hukum Islam tentang pernikahan, baiknya pembaca mencari tahu dan mempelajarinya melalui buku atau orang/ustadz/ulama yang lebih berkompeten.

Menikmati Keceriaan Si Kecil Di Penghujung Harinya

Waktu tidur adalah penghujung hari bagi orangtua untuk menikmati interaksi dengan anak-anak. Di waktu ini pula, sebenarnya orangtua masih bisa menikmati keceriaan si kecil yang asyik bermain, sendiri saja, berbisik di atas kasur, di tengah kegelapan kamar, menunggu kantuk datang merobohkan pertahanan, hingga akhirnya tertidur dengan mukanya yang polos, dan pulas.

Hal itu yang penulis rasakan tadi malam, saat memilih tuk memenuhi ajakan gadis kecilnya, menemani ia tertidur, menunda sejenak hasrat membuka laptop.

——————————

Yah, sini yaah!” teriak Nadine memelas kepadaku.

Nadine sudah cuci kaki?” kuajukan pertanyaan itu sambil mendekatinya, memeriksa kedua telapak kakinya tanpa menunggu ia menjawab.

Udah.” jawaban Nadine renyah, aku tersenyum membenarkannya.

Sekarang bobolah ya, adek Dia sudah bobo tuh!” hatiku lega mengatakan hal itu, menatap Nadia yang telah tertidur lelap di samping kakaknya, hanya dibatasi sebuah guling untuk menjaganya dari tidur Nadine yang suka grasak grusuk. Sudah berapa malam ini Nadia agak rewel karena batuknya yang tak kunjung sembuh.

Kami sekeluarga kecil ini masih menikmati tidur sekamar. Dengan dua kasur; satu single kasur kecil untukku, dan satu spring bed besar tanpa dipan untuk sang istri dan anak-anak. Kedua gadis kecilku tidur memanjang, berbagi lebarnya spring bed. Sementara bunda mereka tidur melebar membelakangi kepala kedua gadisku tersebut. Untuk malam ini, posisi bunda kugantikan sesaat.

Waktu jam dinding baru menujukkan pukul setengah sembilan lewat sedikit. Lampu kamar telah dipadamkan istriku, berganti dengan lampu tidur berbentuk beruang kecil yang lucu, menempel pada colokan listrik di dinding. Televisi di kamar juga telah mati, aku yang melakukannya. Tumben, kali ini Nadine menerima keadaan tersebut tanpa mengeluarkan protes.

Kini aku telah berbaring, menyampingkan tubuh ke arah kedua gadisku, dan berpura-pura tidur. Ini harus dilakukan untuk menghindari interaksi yang berkepanjangan dari Nadine. Kalau gadisku ini diajak ngobrol dan bermain, ia akan dengan senang hati menemani sampai larut malam sekalipun.

Di tempatnya, kulihat Nadine sedang berbisik, entah apa yang ia ucapkan karena tak cukup jelas untuk sampai ke telingaku. Bisikannya cukup panjang, seakan ia sedang bercerita tentang sesuatu yang amat menarik. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

Lalu ia berbalik, memindahkan posisi tidurnya di atas guling yang membatasinya dengan Nadia. Semoga saja Nadine tidak mengganggu tidur si adik, sehingga aku tidak perlu menegurnya, merusak akting tidurku yang sudah berjalan hampir sempurna ini.

Kembali Nadine berbalik, dan berbalik lagi, entah untuk yang ke-berapa kalinya, hingga akhirnya kembali pada posisinya yang semula, membelakangi tubuhku. Kemudian Nadine bernyanyi, kali ini dengan suara yang pelan, tidak berbisik. Nadine juga bertepuk tangan, masih dengan pelan, walau tak selaras dengan irama lagunya. Aku coba menangkap, lagu apa gerangan yang dinyanyikan gadis kecilku itu? Ternyata lagu kesukaannya, “Cicak-cicak di Dinding”.

Tak sampai habis satu lagu ia nyanyikan, Nadine berucap sendiri: “Nyanyi lagu apa?” dengan lafaz yang masih belum sempurna. Kembali ia bersenandung, kali ini terdengar lagu “Becak”, hanya beberapa bait saja, mungkin karena ia tidak begitu hafal menyanyikannya sendiri, lalu balik lagi ia menyanyikan lagu “Cicak-cicak di Dinding”, tapi kali ini ia senandungkan liriknya dengan lengkap. Nyanyian itu kemudian ia tutup dengan ucapan “Horeee!” beserta tepukan tangan yang panjang.

Memperhatikan gadis kecilku itu ngomong sendiri, nyanyi sendiri, tepuk tangan sendiri, aku hampir tak bisa menahan tawa melihat kelucuannya. Dan mungkin Nadine menyadarinya, ia berbalik dan mengarahkan wajahnya tepat di hadapanku. Terburu-buru aku menutup mulut dan mata, mengintip reaksi Nadine lewat sedikit celah mata yang kubuka. Sepertinya ia bingung, tak menemukan diriku seperti yang ia harapkan. Dengan sabar ia masih menatapku. Tapi aku tidak bisa terlalu lama bersabar diam seperti ini, tawaku tadi masih bersisa dalam mulut yang terkulum, bisa meledak setiap saat. Beberapa detik kemudian, dari celah intipanku kulihat Nadine menggaruk kepalanya, masih dengan raut wajahnya yang polos serta bingung, dan kali itulah aku tidak bisa lagi menahan mulutku terkatup, aku melepaskan tertawa, Nadine pun ikut tertawa kencang.

Kuciumi muka dan tubuh Nadine, menutupi rasa malu ini karena telah kalah dalam permainan ayah dan anak, tak kuat aku menahan tawa, tak kuat aku berpura-pura. Kekalahanku yang menceriakan Nadine di penghujung harinya, menambah waktu bermainnya lebih panjang lagi. Kembali aku menyuruhnya untuk tidur, kembali kami meneruskan permainan di penghujung hari, seakan tak pernah berakhir.

——————————

Selalu nikmat melewati waktu bersama anak-anak… Semoga bermanfaat!

Gadis Kecilku Bisa Melihat Mahkluk Halus?

Nadine, usianya baru genap 26 bulan (2 tahun 2 bulan) hari Ahad kemarin. Gadis kecil ini adalah anak sulungku, kakak dari Nadia, adiknya yang baru saja lahir pada 26 September tahun lalu. Ini kali kedua aku bercerita tentang Nadine lewat artikel di Kompasiana. Kalau pada sebelumnya tentang bagaimana bahagianya aku melihat keceriaan gadis kecilku ini bila sudah bergoyang mengikuti irama sebuah lagu, maka pada kesempatan ini aku agak sedikit sedih dan bingung untuk menceritakan tentang “ketakutan” Nadine belakangan ini.

Kisahnya dimulai di suatu malam, beberapa hari yang lalu, ketika istriku sedang menemani Nadine menuju tidurnya. Gadis kecilku ini memang agak susah untuk ditidurkan, harus melewati beberapa proses yang agak panjang hingga akhirnya ia terbuai dengan kantuk dan lelah tubuhnya. Biasanya, jurus terakhir yang kami keluarkan adalah mematikan televisi di kamar. Kalau cuma lampu dipadamkan itu sudah menjadi kebiasaan kami di setiap malam, tidak mempan lagi untuk menaklukkannya. Tapi kalau lampu dan televisi sudah off, maka biasanya itu berhasil, walaupun sesekali diikuti dengan rengekan tangisnya.

Lalu bertanyalah Nadine pada Bundanya, begitu ia memanggil istriku, “Apa itu Nda?” Sambil jari telunjuknya mengarah pada pintu kamar.

Istriku tidak melihat apa-apa selain hanya ada tumpukan pakaian yang tergantung di sana, lalu menjawab “Ga ada apa-apa sayang, cuma pakaian.

Takut Nadine… apa itu Nda?” Lagi-lagi Nadine bertanya pada Bundanya, tapi kali ini dengan mimik wajahnya yang ketakutan.

Kembali istriku melihat ke arah belakang pintu kamar, mengamati dengan lebih seksama, mencoba mencari tahu objek apa yang sebenarnya diperhatikan oleh gadis kecilnya hingga ia ketakutan. Kali ini tampak oleh istriku beberapa helai selendang tipis yang bergoyang-goyang karena tertiup hembusan angin dari kipas listrik yang terdapat di dalam kamar. “Oooo… itu jilbab Bunda nak, goyang dia karena ketiup angin.

Takut Nadine Nda,” cepat gadis kecilku menangkap tubuh Bundanya, mengadukan perihal yang masih saja mengusik perasaannya. “Gak ada-apa nak… bobolah ya.” Tak lama kemudian, Nadine telah terlelap tidur dalam pelukan Bundanya.

Ketika akhirnya aku masuk ke dalam kamar, istriku menceritakan kepadaku tentang hal itu. Aku hanya tersenyum saja mendengarkan akhir penuturannya. Tidak ada bahasan lebih panjang lagi dari obrolan kami malam itu karena aku telah sibuk dengan kegiatan yang lebih mengasyikkan, berburu nyamuk!

Selang beberapa hari kemudian dari kejadian tersebut, tepatnya pada malam Senin, aku sedang menemani Nadine di ruang keluarga, menghindarkannya untuk tidak masuk ke dalam kamar agar Bundanya bisa dengan leluasa menidurkan si adik kecil, Nadia. Kebetulan aku juga kangen dengan Nadine, karena seharian ia pergi menemani Bundanya pergi ke sebuah acara arisan, sementara aku lebih memilih untuk tinggal di rumah saja bersama Nadia. Di depan televisi yang kami acuhkan, habis tubuhku dijadikan Nadine sebagai mainan pada malam itu, mulai dari diiinjak-injak, dijadikan perosotan, dienjot-enjot, ditindih sampai digigit olehnya, fuihh!

Di tengah waktuku bermain bersama Nadine, gadis kecilku itu mendadak ketakutan dan medekapku erat tubuhku yang sedang duduk di hamparan karpet, “Takut Nadine Yah.

Jujur saja aku bingung mendapatkannya seperti ini, padahal tidak ada siapa-siapa lagi selain hanya ada kedua orangtuaku yang sedang duduk di kursi santai sambil menonton acara di televisi. Yai dan Nyai, begitu Nadine dan Nadia memanggil kakek-neneknya. Belumlah sempat aku menanyakan, Nadine kembali berucap “Apa itu Yah?” mengacung jari mungilnya menunjuk ke arah siku atau ujung dinding bagian atas ruangan keluarga tempat kami berada.

Aku tidak melihat ada sesuatu apapun yang perlu anakku takutkan di tempat yang ia tunjuk. Tapi yang membuatku lebih penasaran, kenapa ia menunjuk ke arah atas dinding?”Gak ada apa-apa Nadine, emang Nadine takut apa?

Apa itu Yah? Takut Nadine!” kembali Nadine menunjuk, tidak salah lagi arahnya memang ke bagian atas dinding. Serrrr… bulu-bulu halus di tanganku seketika langsung berdiri, darah di kepala ini sepertinya terserap jatuh ke tanah, membayangkan “sosok apa” yang dilihat anakku itu, tapi tidak oleh penglihatan kami.

Aku bingung, Yai dan Nyai yang berada di ruangan itu juga ikutan bingung, dan akhirnya kami memilih menenangkan Nadine untuk menghilangkan perasaan takutnya. Sukurlah, ketakutan Nadine tak berlangsung lama. Setelah itu, ia telah asik kembali bermain dengan kuda plastiknya. Aku yang masih penasaran dengan ketakutan Nadine, pergi ke dalam kamar untuk menceritakan hal ini pada istriku yang langsung beranjak keluar untuk menemui Nadine.

Nadine lihat apa nak? Takut apa Nadine?” ucap istriku yang tidak langsung digubris oleh Nadine yang masih sibuk dengan mainannya. Kembali istriku mengulang pertanyaannya pada Nadine, kali ini dijawab gadis kecilku ini “Ebang.

Apa Nadine, terbang? Sudah terbang dia?” istriku bertanya lagi.

Ebang Nda, suuuuuu” dengan ceria Nadine menjulurkan kedua tangannya ke depan, lalu berlari kecil, bergaya seperti sedang terbang. Tidak ada lagi ketakutan di wajahnya, semua telah kembali normal dalam sekejap.

Tinggallah kini aku dan istri yang masih bingung memikirkan kejadian ini. Istriku kemudian mengaitkan kejadianku ini dengan kejadiannya pada waktu itu di dalam kamar. “Apa anak kita bisa melihat makhluk halus ya Bun?

———————————————————————–

*Ditayangkan juga di Kompasiana

My Wedding Anniversary

Tiga tahun yang lalu, secara resmi aku menerima nikahnya seorang gadis yang kini menjadi istriku. Pernikahannya pada Ahad pagi waktu itu. Pagi yang cerah secerah kebahagiaan kami berdua dan sekeluarga. Pagi yang tenang dan syahdu, seakan Ilahi hendak menunjukkan restu dan ridhoNya lewat cerminan alam. Pernikahanku berjalan lancar, langsung sah, tak perlu harus mengulang Akad untuk berulang kali, alhamdulillaah!

Tapi cukuplah ketenangan itu hanya pada bagian pernikahannya saja. Karena kalau meneropong lebih jauh mengenai kisah acara resepsinya, yang kuingat hanyalah kata ramai, ramai dan letih. Rasanya baru setelah sholat Maghrib aku dan istri bisa bersantai di atas pelaminan. Sebelumnya, untuk menikmati duduk saja tidaklah pernah ada kesempatan yang lapang. Tamu naik silih berganti ke atas mimbar pelaminan untuk bersalam dan berfoto, seakan tak pernah putus alirannya. Lagi-lagi kami harus banyak berucap syukur kepada Allah, karena acara resepsinya juga menuai kepuasan, tidak hanya bagi kami sebagai tuan rumah, tapi juga untuk para tamu yang banyak berucap meninggalkan kesan yang baik. Tentang makanan dan minuman, tentang sambutan, tentang band pengiring, alhamdulillaah mereka berkata puas! Ramai memang karena acaranya  berlangsung  di samping  rumah  mertua yang  kebetulan  berada  di  pinggir jalan

Foto: My Wedding

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

yang cukup besar. Walaupun kami tidak mengambil ruas jalanan, tapi dikarenakan membludaknya tamu yang memarkir kendaraannya di pinggir jalan sehingga menimbulkan sedikit kemacetan. Belum lagi ditambah dengan banyaknya papan bunga ucapan di sepanjang jalanan, kian menambah semerbak keramaian itu.

Ulang tahun pernikahan kami kali ini terasa… (apa ya kata yang tepat untuk mendefinisikannya?). Mungkin lengkap! Serasa lengkap karena kini kami telah memiliki dua orang anak, Nadine dan Nadia, alhamdulillaah. Serasa lengkap karena pikiran dan hati ini telah bisa fokus untuk memikirkan hal lainnya dalam kehidupan. Serasa lengkap karena kami masih memiliki kedua orangtua yang insya Allah senantiasa dalam keadaan sehat, aaamiin! Serasa lengkap karena itu, sesuatu yang kami tunggu, sesuatu yang kami cita-citakan, semoga Allah meridhoi jalan kami untuk mendapatkannya, Allaahumma aaamiin!

Lalu apa yang kuharapkan pada ulang tahun pernikahan ini? Rasanya tak perlu kujawab, karena semua orang di dunia ini pastilah menginginkan kebahagiaan selalu. Begitu pula diriku, selalu berharap yang terbaik untuk keluarga kecilku ini. Tidak ada do’a khusus yang harus kupanjatkan. Yang terpenting adalah lurus-lurus saja selalu di dunia ini, tidak neko-neko dengan banyak keinginan, tidak muluk-muluk dengan banyak harapan, tidak pula bermalas-malasan memimpikan uang turun dari langit. Tetap berusaha dan ikhtiar, tetap tawadhu’ dan bersabar, tetap berdo’a dan tawakkal, dan yang terpenting semoga selalu tetap istiqomah!

Lewat blog ini… kuucapkan salam sayang penuh cinta teruntuk istriku dan anak-anak. Insya Allah aku akan selalu terus belajar agar bisa menjadi seorang suami dan ayah yang baik dan menjadi teladan bagi kalian 🙂

Semi Single Dad (I Will Be)

Ini bukanlah kisah seorang suami yang mengurus anak-anaknya tanpa kehadiran sang istri di sampingnya. Pada kenyataannya… aku masih memiliki istri yang cantik dan sehat. Rumah tangga kami senantiasa dalam keadaan harmonis, walau aku bukanlah sosok yang bisa dibilang romantis. Tidak ada problematika serius di antara kami berdua yang mungkin bisa memaksa kami untuk berpisah. Sekali lagi perlu kutegaskan, agar kelak menjadi do’a yang baik & dikabulkan, tidak ada! Baca lebih lanjut