Menikmati Keceriaan Si Kecil Di Penghujung Harinya

Waktu tidur adalah penghujung hari bagi orangtua untuk menikmati interaksi dengan anak-anak. Di waktu ini pula, sebenarnya orangtua masih bisa menikmati keceriaan si kecil yang asyik bermain, sendiri saja, berbisik di atas kasur, di tengah kegelapan kamar, menunggu kantuk datang merobohkan pertahanan, hingga akhirnya tertidur dengan mukanya yang polos, dan pulas.

Hal itu yang penulis rasakan tadi malam, saat memilih tuk memenuhi ajakan gadis kecilnya, menemani ia tertidur, menunda sejenak hasrat membuka laptop.

——————————

Yah, sini yaah!” teriak Nadine memelas kepadaku.

Nadine sudah cuci kaki?” kuajukan pertanyaan itu sambil mendekatinya, memeriksa kedua telapak kakinya tanpa menunggu ia menjawab.

Udah.” jawaban Nadine renyah, aku tersenyum membenarkannya.

Sekarang bobolah ya, adek Dia sudah bobo tuh!” hatiku lega mengatakan hal itu, menatap Nadia yang telah tertidur lelap di samping kakaknya, hanya dibatasi sebuah guling untuk menjaganya dari tidur Nadine yang suka grasak grusuk. Sudah berapa malam ini Nadia agak rewel karena batuknya yang tak kunjung sembuh.

Kami sekeluarga kecil ini masih menikmati tidur sekamar. Dengan dua kasur; satu single kasur kecil untukku, dan satu spring bed besar tanpa dipan untuk sang istri dan anak-anak. Kedua gadis kecilku tidur memanjang, berbagi lebarnya spring bed. Sementara bunda mereka tidur melebar membelakangi kepala kedua gadisku tersebut. Untuk malam ini, posisi bunda kugantikan sesaat.

Waktu jam dinding baru menujukkan pukul setengah sembilan lewat sedikit. Lampu kamar telah dipadamkan istriku, berganti dengan lampu tidur berbentuk beruang kecil yang lucu, menempel pada colokan listrik di dinding. Televisi di kamar juga telah mati, aku yang melakukannya. Tumben, kali ini Nadine menerima keadaan tersebut tanpa mengeluarkan protes.

Kini aku telah berbaring, menyampingkan tubuh ke arah kedua gadisku, dan berpura-pura tidur. Ini harus dilakukan untuk menghindari interaksi yang berkepanjangan dari Nadine. Kalau gadisku ini diajak ngobrol dan bermain, ia akan dengan senang hati menemani sampai larut malam sekalipun.

Di tempatnya, kulihat Nadine sedang berbisik, entah apa yang ia ucapkan karena tak cukup jelas untuk sampai ke telingaku. Bisikannya cukup panjang, seakan ia sedang bercerita tentang sesuatu yang amat menarik. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

Lalu ia berbalik, memindahkan posisi tidurnya di atas guling yang membatasinya dengan Nadia. Semoga saja Nadine tidak mengganggu tidur si adik, sehingga aku tidak perlu menegurnya, merusak akting tidurku yang sudah berjalan hampir sempurna ini.

Kembali Nadine berbalik, dan berbalik lagi, entah untuk yang ke-berapa kalinya, hingga akhirnya kembali pada posisinya yang semula, membelakangi tubuhku. Kemudian Nadine bernyanyi, kali ini dengan suara yang pelan, tidak berbisik. Nadine juga bertepuk tangan, masih dengan pelan, walau tak selaras dengan irama lagunya. Aku coba menangkap, lagu apa gerangan yang dinyanyikan gadis kecilku itu? Ternyata lagu kesukaannya, “Cicak-cicak di Dinding”.

Tak sampai habis satu lagu ia nyanyikan, Nadine berucap sendiri: “Nyanyi lagu apa?” dengan lafaz yang masih belum sempurna. Kembali ia bersenandung, kali ini terdengar lagu “Becak”, hanya beberapa bait saja, mungkin karena ia tidak begitu hafal menyanyikannya sendiri, lalu balik lagi ia menyanyikan lagu “Cicak-cicak di Dinding”, tapi kali ini ia senandungkan liriknya dengan lengkap. Nyanyian itu kemudian ia tutup dengan ucapan “Horeee!” beserta tepukan tangan yang panjang.

Memperhatikan gadis kecilku itu ngomong sendiri, nyanyi sendiri, tepuk tangan sendiri, aku hampir tak bisa menahan tawa melihat kelucuannya. Dan mungkin Nadine menyadarinya, ia berbalik dan mengarahkan wajahnya tepat di hadapanku. Terburu-buru aku menutup mulut dan mata, mengintip reaksi Nadine lewat sedikit celah mata yang kubuka. Sepertinya ia bingung, tak menemukan diriku seperti yang ia harapkan. Dengan sabar ia masih menatapku. Tapi aku tidak bisa terlalu lama bersabar diam seperti ini, tawaku tadi masih bersisa dalam mulut yang terkulum, bisa meledak setiap saat. Beberapa detik kemudian, dari celah intipanku kulihat Nadine menggaruk kepalanya, masih dengan raut wajahnya yang polos serta bingung, dan kali itulah aku tidak bisa lagi menahan mulutku terkatup, aku melepaskan tertawa, Nadine pun ikut tertawa kencang.

Kuciumi muka dan tubuh Nadine, menutupi rasa malu ini karena telah kalah dalam permainan ayah dan anak, tak kuat aku menahan tawa, tak kuat aku berpura-pura. Kekalahanku yang menceriakan Nadine di penghujung harinya, menambah waktu bermainnya lebih panjang lagi. Kembali aku menyuruhnya untuk tidur, kembali kami meneruskan permainan di penghujung hari, seakan tak pernah berakhir.

——————————

Selalu nikmat melewati waktu bersama anak-anak… Semoga bermanfaat!

Iklan