Jangan Sampai Pernikahan Menjadi Ajang Kumpul Kebo

“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”.

— HR. al-Arba’ah (kecuali an-Nasa’i)

Sepatutnya… sebagai seorang Muslim yang telah menikah dan masih memiliki istri, kita haruslah benar-benar takut dan berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan karena Hadits di atas, terutama dalam perihal yang saya tebalkan, yaitu talak. Bila bercandanya kita saja dalam mengucapkan perkataan talak (lafazh shorih/ucapan yang tegas) sudah dianggap serius oleh Allah SWT, maka itu pula menjadi suatu pertanda bahwa hukumNya telah jatuh pada diri kita.

Satu-dua kali kata talak kita ucapkan, dan jatuh menurut hukum Islam, mungkin masih bisa dengan mudah dimaafkan oleh Allah SWT apabila kita menyesalinya, caranya yaitu dengan rujuk atau dengan akad kembali bila telah melewati masa ‘iddah sang istri. Tapi TIDAK untuk talak yang ketiga! Kenapa? Karena kalau sudah jatuh ucapan talak untuk ketiga kalinya, maka tidak ada lagi yang namanya dispensasi rujuk kembali dari Allah SWT, dengan atau tidak melalui akad yang baru, kecuali apabila sang istri telah menikah dengan orang lain secara sah dan benar menurut ajaran Islam dan lalu bercerai (dan beberapa syarat lainnya).

Nah, sekarang coba Anda bayangkan… apa jadinya bila pasangan suami-istri yang tidak peduli dengan hukum Islam tentang hal ini, lalu sang suami maen asal ucap ketika sedang marah dalam pertengkaran rumah tangganya, tidakkah disadari bahwa sangat mungkin ada perkataan talak yang keluar dari mulut sang suami? Baik melalui lafazh shorih/ucapan yang tegas maupun melalui lafazh kinayah/ucapan kiasan dapat yang menjatuhkan talak bila niatannya memang serius? Sejujurnya, bagi Muslim yang telah mengetahui dan menyadari hukum ini saja terkadang masih sangat susah untuk menjaga mulutnya dari perkataan talak apabila sedang marah, apalagi bagi mereka yang tidak menyadarinya!

Dan mengulang tulisan di atas, satu-dua kali mungkin masih bisa “diterima” oleh Allah SWT untuk rujuk kembali walaupun tata caranya juga seharusnya sesuai tuntunanNya (yaitu dengan ucapan bil-kalam atau perbuatan bil-fi’li). Lalu bagaimana bila talak itu telah jatuh tiga kali (3x) dan pasangan suami-istri tersebut tidak menyadarinya? Atau mungkin lebih tepatnya, tidak ingin menyadarinya, karena bagaimana seorang mengaku Muslim tapi tidak menyadari hukum agamanya sendiri? Setidaknya walaupun mereka tidak mempelajarinya, ketika mereka berakad nikah pun pastilah diberikan nasehat pernikahan oleh penghulu atau seorang ustadz bukan? Dan saya yakin, salah satu hal pokok dalam nasehat pernikahan itu tentu membahas tentang hukum talak, insya Allah demikian adanya!

Kalau sudah tidak disadari bahwa talak tiga itu hukumnya adalah perceraian, tidak ada rujuk (dengan atau tidak melalui akad yang baru), tapi mereka tetap saja terus berumah tangga dengan seperti tidak ada kejadian apa-apa, lalu disebut apakah pasangan suami-istri tersebut kalau bukan kumpul kebo di hadapan Allah SWT? Na’uudzubillaahi min dzaalik, semoga kita semua terlindung dari hal itu!

*/**

Penulis tertarik untuk menulis ini karena telah beberapa kali menemui hal ini di sekitar kehidupan masyarakat, baik itu teman, tetangga bahkan turut pula terjadi pada keluarga jauh penulis. Seseorang bibi yang nyata-nyata telah 3x (tiga kali) ditalak, malah meminta kepada keluarga untuk dirujukkan kembali dengan suaminya (atas bujukan suaminya itu juga yang menyesal). Syukurlah keluarga mengetahui duduk persoalan hal ini dan menolak tegas keinginan sang bibi tersebut karena memang jelas bertentangan dengan hukum Islam.

Kasus di atas bisa dihindari karena adanya pengakuan dari pasangan suami-istri kepada keluarga mereka. Lalu apa yang bakal terjadi bila pasutri yang jelas-jelas seharusnya bercerai karena jatuhnya talak tiga, tetapi keluarga atau masyarakat lain tidak mengetahuinya karena mereka tidak pernah bercerita, dan pasutri tersebut tetap meneruskan kehidupan serumah karena masih cinta? Itulah yang penulis katakan sebagai kumpul kebo di hadapan Allah SWT, tetapi di mata manusia lain mereka masih “sah” sebagai pasutri. Lagi-lagi na’uudzubillaahi min dzaalik, semoga iman kita yang masih rendah ini sekalipun masih bisa menyadarkan dan menjauhkan kita dari perbuatan tersebut!

 Semoga tulisan ini bermanfaat… terkhusus bagi diri saya sendiri dan bagi ummat, aaamiin!

———————————————————————–

*Contoh kasus di atas hanyalah untuk memadankan dengan tulisan ini, bukan untuk membongkar atau membuka ‘aib orang lain, apalagi keluarga sendiri!

**Penulis bukanlah seorang yang biasa dipanggil ustadz, bukan ahli yang berkompeten di bidang hukum–khususnya pernikahan–Islam. Pembahasannya dalam tulisan ini juga tidak ditulis secara panjang lebar dan komprehensif, hanya mengurai atau lebih cocoknya mengutip sebagian kecilnya saja untuk dipadankan dengan fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan penulis. Untuk lebih jelasnya mempelajari hukum Islam tentang pernikahan, baiknya pembaca mencari tahu dan mempelajarinya melalui buku atau orang/ustadz/ulama yang lebih berkompeten.

Iklan

Merekam Aksi Siberat

teringatku Enid Blyton, R.L. Stine,

Kamis, Dini HariAku baru saja tuntas melahap The Hangover dengan masih menyisakan wajah yang mesem-mesem mengingat kembali adegan-adegan kocak dalam film tersebut. Kegilaan satu malam di Las Vegas menghabisi masa lajang Doug harus dibayar dengan ekstra kegilaan sehari penuh oleh tiga temannya Alan, Phil dan Stu yang dalam kondisi tak ingat sedikitpun apa yang pernah mereka lakukan semalam—karena candu roofies—tapi mengharuskan mereka mencari Doug yang hilang sementara ia akan menikah keesokannya. Cukuplah, panjang pula nanti cerita soal ini…

Kutata ulang lantai kamar yang berantakan lalu beranjak ke kamar mandi untuk menunaikan upacara rutin sebelum bobo. Seusainya, kebiasaanku mencek dan recheck setiap sudut ruang untuk memastikan semua dalam keadaan rapi dan aman. Ember-ember air untuk cuci-mencuci sudah terisi penuh (kebetulan rumahku jadi workshop untuk usaha laundry), dua gredel pintu belakang sudah terpasang rapat, kunci pintu depan kugantung menjauh di bagian atas agar tak terjangkau bila ada yang berniat usl mengambilnya dari kaca nako di sebelah pintu, terakhir aku sempatkan minum segelas air putih, beres!

suara mencurigakan

Aku sudah terbaring di atas ranjang tak berdipan dengan pikiran setengah sadar yang melayang ke negeri entah berantah. Mataku masih terbuka menatap satu-satunya sumber cahaya yang masuk ke kamar, datang dari ruang tengah (barat) melalui celah sempit sepanjang hamper tiga petak ubin di bawah pintu. Menurut apa yang pernah kubaca, rata-rata pria dewasa baru bisa tidur setelah lebih dari setengah jam berada di atas kasur, bahkan lebih untukku. Kebanyakan mikir kata bacaan itu, kurasa benar, setidaknya—lagi-lagi—untukku.

Tak sadar untuk berapa lamanya terbaring dengan kesadaran yang tinggal separuh, tiba-tiba saja aku tertarik pada suara yang sepertinya terdengar acap. Aku hanya ingin tahu, suara apakah itu? Semakin lama suara itu terdengar, aku mulai menyadari itu seperti suara kaca nako yang sedang diutak-atik. Pikiranku yang sudah terjaga utuh mengingatkanku pada kaca nako kamar kosong belakang yang bersebelahan (selatan) dengan kamarku, tapi benarkah? Malingkah yang sedang mengutak-atik kaca nako kamar itu? Kali berikutnya kucoba kembali mendengarkannya dengan seksama walau masih belum bisa meyakinkanku untuk menutupi kecurigaan ini. Ahh, lebih baik aku berdeham saja, kurasa itu akan sangat efektif untuk mengagetkan bila memang ada seseorang yang sedang iseng di luar sana. Eheemmm..!!

Sedikit bermanfaat memang langkah ini, setidaknya untuk beberapa detik sebelum suara itu kembali muncul acap dan semakin berirama, perasaanku sudah mulai tak nyaman dengan situasi yang berlangsung. Aku berinisiatif untuk mengintip lorong melalui celah jendela kamar. Tak terlihat sosok apapun di luar sana, tapi suaranya yang terdengar lebih jelas meyakinkanku bahwa suara itu memang sungguh kaca nako yang sedang diutak-atik, pastinya oleh seseorang! Kekhawatiranku kian bertambah, kali ini diiringi emosi dan rasa penasaran yang bercampur aduk. Sebenarnya semua jendela di rumahku memakai jerjak (=teralis) besi sebagai pelindung yang berguna, tapi demi keamanan sebaiknya aku periksa saja kamar sebelah secepatnya untuk memastikan.

Ada tiga pintu yang harus kubuka untuk sampai dan masuk ke kamar sebelah, dan semuanya kubuka dengan bantingan yang cukup keras, kuharap seseorang di luar sana—entah ada atau tidak—mengurungkan niatnya untuk macam-macam di rumahku. Kuhidupkan lampu, beberapa bed cover dan pakaian laundry yang masih setengah basah tergantung di dalam. Kuamati jendela kaca nakonya, utuh! Sukurlah, kelegaan menghadiriku sesaat. Tapi kalau bukan kaca nako kamar ini yang diutak-atik, lalu datang dari manakah suara itu? Apa mungkin asalnya dari rumah tetangga? Berpuluh pertanyaan lainnya hinggap benakku, belum mampu kujawab semuanya. Aku kembali memastikan semua sudut rumah sudah benar-benar aman setelah akhirnya aku masuk kembali ke dalam kamarku dengan perasaan yang semakin penasaran, suara yang aneh!

pengintaian

Di sebelah timur, tepat bersampingan dengan kamarku adalah sebuah jalan kecil, lebih tepatnya seperti lorong yang menjadi akses satu-satunya menuju dua buah rumah kontrakan di belakang, berujung hanya sampai di situ, buntu! Salah satu kontrakan itu sudah beberapa bulan ini kosong tak berpenghuni, sementara rumah yang satu lagi didiami sepasang suami istri penjual es kelapa di area stadion Teladan dan mempunyai dua anak lelaki yang masih duduk di bangku SMP. Inilah yang membuat lorong tersebut jarang sekali dilewati kecuali hanya oleh penghuni rumah kontrakan belakang, sesekali oleh anak-anak kecil yang sedang bermain petak umpet di sana.

Lorong itu hanya selebar dua orang dewasa yang bertubuh sedang (kurus boleh), lalu ada pagar yang membatasi rumahku dengan rumah tetangga, serta sebidang kecil halamannya yang sedikit lebih sempit dari lorong. Mudahnya, jarak di antara kedua rumah berkisar dua meter, lebih sikitlah (=sedikit). Ada lampu yang terpasang di lorong itu tapi sepertinya sudah lama mati dan tak pernah diganti dengan yang baru oleh si pemilik dan si penyewa rumah kontrakan. Mungkin ada lima belas hingga dua puluh meter jarak dari jalan utama menuju jendela kamarku sehingga tak cukup jelas bagi orang yang lewat untuk melihat keadaan di lorong tersebut di malam hari, apalagi tanpa penerangan.

Sudah lima menit aku berdiri di atas kasur mengamati lorong itu, belum kudapati tanda-tanda dari luar sana. Aku perhatikan separuh bawah pagar pembatas itu adalah dinding kecil setinggi lutut orang dewasa, bagian atas berpagar bersi berwarna hitam kelam setinggi dada atau pangkal leher. Menit demi menit berlalu dalam helaan nafas yang kuatur pelan, hati kecilku berdoa semoga insting ini hanyalah karena kekhawatiran saja, tak jadi kenyataan. Lima menit lagi berlalu dalam kesunyian.

Tiba-tiba mataku menangkap sepasang kaki bercelana hitam mengendap pelan menerobos kegelapan lorong, tepat di hadapanku, hanya terpisah lapisan dinding kamar dan jendela. Sesaat aku terdiam menahan nafas, jantungku berdegup kencang dan keras, kekhawatiranku terjawab diiringi perasaan takut dan bingung yang datang dalam kepanikah. Usai dua langkah panjang, sepasang kaki itu menaiki dinding pagar pembatas dan hilang dari pandanganku. Sempitnya celah jendela menghalangiku untuk melihat lebih jelas, pantas saja aku tak melihat apapun sewaktu pertama kali aku mengintip. Lalu terdengar kembali suara yang tak asing lagi di telingaku. Aku tahu kini, itu pasti datang dari kaca nako jendela tetanggaku! Semakin kencang detak jantungku dilanda panik, haruskah aku berteriak sekarang? Atau…?

memikirkan strategi

Langkah pertama yang harus kuatasi adalah menghilangkah kepanikan yang menimpaku saat ini, aku harus tenang. Kuatur kembali nafas dengan helaan panjang, pelan. Kalau bukan dalam situasi ini, mungkin aku sudah menertawakan diriku sendiri yang ketakutan padahal orang yang ada di luar sanalah yang menjadi pencurinya. Perlahan, akal sehatku pun pulih kembali dan mulai berpikir cepat untuk mencari langkah yang terbaik. Aku teringat kisah temanku di lain tempat. Saat itu ia memergokin dan membatalkan aksi pencuri di rumah tetangganya, sayangnya si pencuri tak tertangkap. Beberapa hari kemudian justru rumahnya sendiri yang dibongkar oleh para pencuri, beruntung mereka sekeluarga baik-baik saja. Ternyata maling juga bisa mempunyai motif balas dendam dalam aksinya. Mengingat kisah itu, akankah aku akan membiarkan pencuri ini menikmati aksinya?

Sembari terus berpikir, di dalam samar aku kembali menangkap bayangan gelap tubuh seseorang yang tengah menunduk, bahkan sepertinya dua orang. Kali ini bayangan itu berada di halaman kecil rumah tetanggaku, itu berarti mereka berdua atau bertiga, atau bisa jadi lebih tanpa sepengetahuanku. Seandainya saja di kamarku ini ada kelewang (=golok) sebagai peganganku bila ingin menghadapi gerombolan pencuri ini, aku tak yakin bisa melawan mereka bertiga dengan tangan kosong, sendirian pula. Sayang juga tak ada kayu atau balok panjang lainnya. Untuk keluar kamar juga tak mungkin, akan berisik nantinya dan malah membuat mereka menyadari keberadaanku.

Aku menyesalkan tak pernah menyimpan nomor HP para tetangga karena memang belum pernah ada kebutuhannya hingga saat ini. Kalau saja aku memilikinya, aku bisa mengirimkan sms kepada mereka, memberitahukan keadaan yang sedang terjadi dan meminta mereka untuk mencegat gerombolan pencuri ini di jalan utama sambil menunggu aba-aba dariku. Aku yakin sekali cara ini pasti bisa meringkus gerombolan siberat siwalan. Geram…!!

saatnya beraksi

Tetanggaku ini bermarga Raja Gukguk (Batak). Setahuku, terdapat empat atau lima orang yang mendiami rumah mereka. Ada sepasang orangtua, mungkin setua kedua orangtuaku. Mereka ini termasuk orang yang sepertinya taat beribadah dan rajin pergi ke gereja, sering pula kudengar suara nyanyian rohani dari dalam rumah mereka. Lalu ada anak perempuan mereka yang bekerja dan sudah menikah, tapi jarang sekali aku melihat keberadaan suaminya di rumah, entah karena pekerjaan di luar kota atau memang tinggal di tempat lain. Dan terakhir seorang perempuan lagi yang masih duduk di bangku SMA, cucu dari pasangan orangtua tersebut.

Dengan kondisi rumah tanpa ada kehadiran lelaki dewasa di dalamnya, perasaanku menjadi iba, tak tega membayangkan apa yang bakal terjadi kalau saja gerombolan pencuri itu bukan hanya ingin mengambil harta benda yang ada. Atau membayangkan keluarga tersebut memergokin pencuri yang kemudian bisa menjadi sadis terhadap mereka karena panic dan kalaf. Bagaimana bila hal itu yang menimpa keluargaku, kedua orangtua dan adik kecilku Nisa? Memikirkan kegilaan itu memompa nyali dan keberanianku seketika, tak ada alasan lagi untuk gentar pada gerombolan siberat ini, beuh!

Dari segala apa yang terlintas di benak dalam menit-menit yang terasa panjang, aku sudah menentukan langkah yang terbaik. Kutarik kembali nafas panjang, bismillah, kupukul kencang jendela kamarku sambil dengan lantang berteriak, “Woii, pergi kalian ba**saaat!”. Bergegas kubuka jendela untuk melihat keadaan di luar, namun secepat itu pula suara langkah kaki seribu gerombolan pencuri tersebut kencang terdengar. Aku bahkan tak sempat lagi melihat sosok mereka karena memang butuh waktu untuk membuka dua lapis jendela kamarku. Yang bisa kulakukan hanya berteriak kata sakti “Maliiing!”, lagi dan lagi sampai kupastikan memang tak ada lagi gerombolan pencuri itu tersisa di sekitar rumah. Sungguh perasaan lega mengalir deras di dadaku, aku telah berhasil menggagalkan sebuah aksi kejahatan, walaupun belum bisa menangkap gerombolan pencurinya.

Jeritanku itu tak cukup kencang untuk membangunkan penduduk sekampung, tapi langsung membuat ibu dan adik lelakiku terjaga dari tidurnya. Mereka turut bergabung bersama melihat TKP dari balik jendela kamarku. Cukup lama juga menunggu tetangga sebelah bangun dan akhirnya menyadari bahwa rumah mereka hendak dibobol gerombolan pencuri. Sudah ada dua kaca nako jendela sebelah kiri yang terlepas dari tempatnya. Sebenarnya itu sudah sangat cukup bagi pencuri untuk dapat masuk ke dalam rumah karena memang jendela itu tak dipasangi teralis, sukurlah hal itu belum sempat terlaksana.

menuntaskan misi

Syahdu azan Subuh berkumandang, ayahku sudah dari tadi ke masjid untuk berjamaah. Kuusaikan pagi ini dalam dua rakaat yang singkat, kantukku sudah terasa perih di pelupuk mata. Sorenya, kabar kejadian itu telah tersebar di telinga para tetangga dekar. Tak besar reaksi yang muncul, biasa saja. Mungkin akan terdengar lebih seru kalau saja gerombolan pencuri itu berhasil merampok rumah, sukurlah tidak! Atau akan sangat lebih heboh bila aku dan para tetangga lain berhasil meringkus gerombolan siberat itu, lain kalikah, mudah-mudahan!

Ada dua hal yang pasti kualami pasca kejadian itu. Pertama, aku jadi agak takut untuk tidur cepat dalam beberapa hari ini. Terpaksa juga meronda sendiri di dalam rumah selama masih bisa kutahan kantuk. Dini hari merupakan waktu yang sangat ideal bagi pencuri untuk beraksi sebab di saat itu pula puncak lelap tidur bagi kebanyakan orang. Kedua, aku jadi mudah curiga terhadap orang lain, terutama pada mereka yang tidak kukenal, atau pada orang yang gayanya tak bersahabat. Tapi sukurlah kedua hal itu hanya berlangsung sesaat.

Jendela rumah tetanggaku kini sudah dipasangi sepotong seng, tentunya pencuri harus berpikir panjang untuk meredam suara seng yang nyaring bila ingin mengulang kembali aksinya. Atau mungkin gerombolan siberat itu akan melancarkan aksi balas dendamnya kepadaku yang sudah pernah menggagalkan mereka sebelumnya? Aku tak berharap hal itu terjadi, jangan sampailah! Sungguh ini menjadi pengalaman berharga…

—habis bah—

———————————————————————–

*Pernah ditayangkan di KoKi dan Kompasiana

Titip Salamku Untuk Jakarta

Untuk saudaraku (perantau) yang sedang menuntut ilmu di kota Jakarta…

Dulu, aku sama sepertimu, datang dari daerah, pergi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Alasanmu mungkin beragam, mungkin pula berbeda dengan alasanku dulu. Mungkin kamu diterima di PTN ternama karena kecerdasanmu, mungkin pula orangtuamu kaya & memilihkan kampus swasta terbaik untukmu di sini. Sedangkan aku… aku pergi ke Jakarta untuk menghindari kehidupan remajaku yang sedikit nakal. Dulu aku gemar berjudi kecil-kecilan, walau nilai raportku di sekolah selalu masuk ranking 10 besar. Dulu aku gemar menghisap ganja, walau sejujurnya aku tak perlu membelinya. Hingga akhirnya aku diterima di salah satu institut Negeri di pinggiran Jakarta, kuyakin bukan karena kecerdasanku, hanya karena sedikit keberuntunganku saat itu.

Saudaraku…

Tempat tinggalmu di Jakarta juga pastinya beragam. Mungkin kamu sepertiku dulu, tinggal di kamar kost yang sederhana & sempit, sekedar cukup untuk menampung badan ini melepas lelah, sekedar cukup untuk menaruh buku-buku yang berserakan di lantai, sekedar cukup untuk bersantai sambil menikmati seduhan kopi & sebatang (mungkin lebih) rokok, sekedar cukup untuk bermain gitar & domino bersama kawan-kawan yang senasib. Atau mungkin kamu tinggal di kost-an elite, apartemen & semacamnya, yang menyediakan air panas sebagai fasilitasnya, yang menyediakan parkir untuk kendaraanmu, lagi-lagi pemberian dari orangtuamu yang mungkin seorang pejabat, atau pemilik kebun kopi & sawit. Mungkin juga kamu lebih memilih tinggal bersama sanak familimu.

Saudaraku…

Lalu apa yang engkau akan lakukan setelah lulus dari kuliahmu nanti? Akankah engkau sepertiku dulu, yang enggan meninggalkan Jakarta karena pesonanya yang sungguh memikat, atau karena semua temanmu kebanyakan berada di sana, atau karena ingin mencoba peruntungan lebih lanjut lagi dalam dunia lapangan pekerjaan? Mungkin engkau tergiur dengan gaji di Jakarta yang jauh lebih besar daripada gaji di daerah, mungkin engkau juga tertarik dengan gaya hidup di Jakarta yang glamour, penuh dengan kehidupan malamnya yang ceria berwarna. Atau mungkin dirimu telah memiliki kekasih di sana, dan rasanya dunia akan runtuh tanpanya di sisimu.

Apapun alasanmu nanti untuk tinggal lebih lama lagi di Jakarta, kuharap kau mau mempertimbangkannya lagi, tapi kali ini, lakukanlah dengan amat bijak! Dan kali ini kuyakin dirimu pasti tahu—bukan sekedar mungkin—sebagian besar potret & realitas kota Jakarta. Engkau pasti tahu derita jalanan di sana yang senantiasa dihadapkan pada persoalan kemacetan, engkau juga pasti tahu betapa mahalnya biaya hidup di sana, engkau pasti tahu siklus banjir ibukota. Atau perlu kutambahkan lagi saudaraku? Tentang betapa dahsyatnya kepadatan penduduk di sana yang telah menyentuh angka 15 ribu jiwa per km², tertinggi di negara kita ini. Atau tentang betapa tidak layaknya lagi kota Jakarta itu dihuni oleh lebih dari 10 juta jiwa dengan segala permasalahan infrastruktur, polusi & tetek bengek lainnya.

Saudaraku…

Dengarlah sedikit cerita hidup & keseharianku yang kini telah meninggalkan kota Jakarta. Bangun pagi usai menunaikan sholat Shubuh, aku masih punya banyak waktu luang untuk beraktifitas lainnya. Aku masih bisa menyimak sajian berita dari televisi sambil menikmati secangkir teh manis dan beberapa potong ubi goreng. Atau kalau saja aku mau rajin berolahraga, sangat memungkinkan bagiku untuk jogging atau sekedar berjalan santai menikmati udara segar kotaku. Dan yang paling menyenangkan di setiap pagi adalah, aku masih bisa menyambut bangunnya anak-anakku dari peraduan mereka, memandikan mereka, mendandani mereka, menyuguhkan sarapan kepada mereka & menciumi wangi tubuh mereka. Ketika aku akhirnya harus pergi meninggalkan mereka, selalu ada waktu bagi anak-anakku untuk mencium tanganku, melambaikan tangan kepadaku sambil sesekali berteriak “ti-ti ayah”.Lalu.. perjalananku ke kantor hanya cukup memakan waktu 5-15 menit saja. Aku bisa bersantai untuk mandi, berpakaian & menyiapkan segala sesuatunya cukup 1 jam sebelum jam kerjaku tiba. Sorenya… pukul 17.05-17.15 aku telah berada di rumahku kembali, menikmati kembali cengkrama & canda tawa bersama keluarga kecilku yang telah menunggu. Dan di malam hari… aku tak harus menyegerakan tidurku, aku masih bisa ngobrol santai dengan istriku, aku masih punya waktu luang untuk membuka blog setelah anak-anakku terlelap dalam tidur mereka, aku masih bisa berganti tugas dengan istriku mencuci habis dot-piring-gelas-sendok-garpu kotor di wastafel. Intinya saudaraku… aku bisa menikmati hari-hariku dengan tersenyum manis.

Saudaraku…

Ceritaku tersebut mungkin akan sangat susah untuk didapatkan bila engkau lebih memilih hidup di kota Jakarta. Percayalah… aku pernah mengalaminya, dan itu kualami ketika masa lajangku, tanpa istri & tanpa anak-anak! Aku pernah mengalami harus bangun jam 5 pagi, mandi dengan bergegas, Shubuh sebentar, lalu keluar rumah untuk menunggu bus kota yang telah penuh sesak isinya oleh manusia, mustahil untuk mendapatkan tempat duduk kalau bukan karena mukjizat, dan itu harus kulakukan rutin sebelum pukul setengah 7 pagi bila tak ingin terlambat masuk kantor. Baru masuk kantor badanku telah berasa letih karena harus berdiri 1-2 jam di dalam bus. Datanglah sore, kemacetan jalanan & letihnya badan serta pikiran suka membuatku enggan untuk pulang tepat waktu, terkadang aku lebih memilih Maghriban terlebih dahulu di masjid samping kantor, berharap setelah itu perjalanan pulangku akan sedikit lebih tenang, walaupun pada kenyataannya tidak jauh berbeda. Tiba di kost-an, waktu telah menunjukkan pukul 20.30 hingga 21.00, rasanya ingin langsung menjatuhkan badan ini ke tempat tidur, walau sesekali kusempat-sempatkan untuk menghibur diri pergi ke warnet atau sekedar bermain gitar.

Saudaraku…

Sungguh aku masih ingin bercerita lebih banyak untukmu, tapi biarlah kucukupkan hingga di sini, memberikan kesempatan untukmu berpikir arif. Kuyakin dirimu cerdas untuk memilih langkahmu ke depan. Dan apapun keputusanmu itu, kudoakan yang terbaik untukmu, kudoakan engkau bisa berhasil melaluinya, dan kudoakan engkau menjadi orang yang sukses, bermanfaat bagi orang lain tentunya.Titip salamku untuk Jakarta!

Surau Ini Merindukan Soekarno-Hatta

Di tengah euforia & obrolan hangat masyarakat Indonesia menyambut film Soekarno yang kini beredar di bioskop-bioskop tanah air, maka ini mungkin waktu yang tepat untuk menceritakan sedikit fakta tentang Pahlawan Nasional ini—dan beberapa pahlawan lainnya—dari perspektif & pengalaman para pengurus serta jama’ah surau di kampungku. Baca lebih lanjut