Pengalaman Membuat Paspor Secara Online (bag. 2)

Pada artikel Pengalaman Membuat Paspor Secara Online (bag. 1), saya telah menjelaskan tips dan cara pendaftaran Layanan Paspor secara Online melalui situs http://www.imigrasi.go.id berdasarkan pengalaman saya pribadi, hingga akhirnya kita mendapatkan email konfirmasi yang terlampir di dalamnya Tanda Terima Pra Permohonan. Selanjutnya, salah satu dari Tanda Terima Pra Permohonan tersebut (jumlahnya ada 2) kita bawa untuk membayar biaya pembuatan/penggantian Paspor di BNI. Pembayaran haruslah dilakukan sendiri di BNI, tidak bisa melalui ATM atau Online Banking.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pengalaman Membuat Paspor Secara Online (bag. 1)

Dalam rangka persiapan menuju ke Amrik, saya dan istri telah menyiapkan schedule untuk segala sesuatunya. Salah satu agenda yang terpenting adalah pembuatan Paspor. Seperti biasa, saya selalu bertanya terlebih dahulu kepada om Google, dan jawaban serta penjelasannya ternyata melimpah alias banyak. Informasi yang paling menarik yang saya dapatkan adalah; bahwa pembuatan Paspor ternyata bisa melalui Online, yang disebut dengan Pra Permohonan Personal Paspor Online. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi cerita kepada teman-teman semua tentang pengalaman pribadi saya dalam mengurus pembuatan Paspor baru (dan penggantian Paspor lama) secara Online. Semoga bermanfaat…

Baca lebih lanjut

Jangan Sampai Pernikahan Menjadi Ajang Kumpul Kebo

“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”.

— HR. al-Arba’ah (kecuali an-Nasa’i)

Sepatutnya… sebagai seorang Muslim yang telah menikah dan masih memiliki istri, kita haruslah benar-benar takut dan berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan karena Hadits di atas, terutama dalam perihal yang saya tebalkan, yaitu talak. Bila bercandanya kita saja dalam mengucapkan perkataan talak (lafazh shorih/ucapan yang tegas) sudah dianggap serius oleh Allah SWT, maka itu pula menjadi suatu pertanda bahwa hukumNya telah jatuh pada diri kita.

Satu-dua kali kata talak kita ucapkan, dan jatuh menurut hukum Islam, mungkin masih bisa dengan mudah dimaafkan oleh Allah SWT apabila kita menyesalinya, caranya yaitu dengan rujuk atau dengan akad kembali bila telah melewati masa ‘iddah sang istri. Tapi TIDAK untuk talak yang ketiga! Kenapa? Karena kalau sudah jatuh ucapan talak untuk ketiga kalinya, maka tidak ada lagi yang namanya dispensasi rujuk kembali dari Allah SWT, dengan atau tidak melalui akad yang baru, kecuali apabila sang istri telah menikah dengan orang lain secara sah dan benar menurut ajaran Islam dan lalu bercerai (dan beberapa syarat lainnya).

Nah, sekarang coba Anda bayangkan… apa jadinya bila pasangan suami-istri yang tidak peduli dengan hukum Islam tentang hal ini, lalu sang suami maen asal ucap ketika sedang marah dalam pertengkaran rumah tangganya, tidakkah disadari bahwa sangat mungkin ada perkataan talak yang keluar dari mulut sang suami? Baik melalui lafazh shorih/ucapan yang tegas maupun melalui lafazh kinayah/ucapan kiasan dapat yang menjatuhkan talak bila niatannya memang serius? Sejujurnya, bagi Muslim yang telah mengetahui dan menyadari hukum ini saja terkadang masih sangat susah untuk menjaga mulutnya dari perkataan talak apabila sedang marah, apalagi bagi mereka yang tidak menyadarinya!

Dan mengulang tulisan di atas, satu-dua kali mungkin masih bisa “diterima” oleh Allah SWT untuk rujuk kembali walaupun tata caranya juga seharusnya sesuai tuntunanNya (yaitu dengan ucapan bil-kalam atau perbuatan bil-fi’li). Lalu bagaimana bila talak itu telah jatuh tiga kali (3x) dan pasangan suami-istri tersebut tidak menyadarinya? Atau mungkin lebih tepatnya, tidak ingin menyadarinya, karena bagaimana seorang mengaku Muslim tapi tidak menyadari hukum agamanya sendiri? Setidaknya walaupun mereka tidak mempelajarinya, ketika mereka berakad nikah pun pastilah diberikan nasehat pernikahan oleh penghulu atau seorang ustadz bukan? Dan saya yakin, salah satu hal pokok dalam nasehat pernikahan itu tentu membahas tentang hukum talak, insya Allah demikian adanya!

Kalau sudah tidak disadari bahwa talak tiga itu hukumnya adalah perceraian, tidak ada rujuk (dengan atau tidak melalui akad yang baru), tapi mereka tetap saja terus berumah tangga dengan seperti tidak ada kejadian apa-apa, lalu disebut apakah pasangan suami-istri tersebut kalau bukan kumpul kebo di hadapan Allah SWT? Na’uudzubillaahi min dzaalik, semoga kita semua terlindung dari hal itu!

*/**

Penulis tertarik untuk menulis ini karena telah beberapa kali menemui hal ini di sekitar kehidupan masyarakat, baik itu teman, tetangga bahkan turut pula terjadi pada keluarga jauh penulis. Seseorang bibi yang nyata-nyata telah 3x (tiga kali) ditalak, malah meminta kepada keluarga untuk dirujukkan kembali dengan suaminya (atas bujukan suaminya itu juga yang menyesal). Syukurlah keluarga mengetahui duduk persoalan hal ini dan menolak tegas keinginan sang bibi tersebut karena memang jelas bertentangan dengan hukum Islam.

Kasus di atas bisa dihindari karena adanya pengakuan dari pasangan suami-istri kepada keluarga mereka. Lalu apa yang bakal terjadi bila pasutri yang jelas-jelas seharusnya bercerai karena jatuhnya talak tiga, tetapi keluarga atau masyarakat lain tidak mengetahuinya karena mereka tidak pernah bercerita, dan pasutri tersebut tetap meneruskan kehidupan serumah karena masih cinta? Itulah yang penulis katakan sebagai kumpul kebo di hadapan Allah SWT, tetapi di mata manusia lain mereka masih “sah” sebagai pasutri. Lagi-lagi na’uudzubillaahi min dzaalik, semoga iman kita yang masih rendah ini sekalipun masih bisa menyadarkan dan menjauhkan kita dari perbuatan tersebut!

 Semoga tulisan ini bermanfaat… terkhusus bagi diri saya sendiri dan bagi ummat, aaamiin!

———————————————————————–

*Contoh kasus di atas hanyalah untuk memadankan dengan tulisan ini, bukan untuk membongkar atau membuka ‘aib orang lain, apalagi keluarga sendiri!

**Penulis bukanlah seorang yang biasa dipanggil ustadz, bukan ahli yang berkompeten di bidang hukum–khususnya pernikahan–Islam. Pembahasannya dalam tulisan ini juga tidak ditulis secara panjang lebar dan komprehensif, hanya mengurai atau lebih cocoknya mengutip sebagian kecilnya saja untuk dipadankan dengan fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan penulis. Untuk lebih jelasnya mempelajari hukum Islam tentang pernikahan, baiknya pembaca mencari tahu dan mempelajarinya melalui buku atau orang/ustadz/ulama yang lebih berkompeten.

Merekam Aksi Siberat

teringatku Enid Blyton, R.L. Stine,

Kamis, Dini HariAku baru saja tuntas melahap The Hangover dengan masih menyisakan wajah yang mesem-mesem mengingat kembali adegan-adegan kocak dalam film tersebut. Kegilaan satu malam di Las Vegas menghabisi masa lajang Doug harus dibayar dengan ekstra kegilaan sehari penuh oleh tiga temannya Alan, Phil dan Stu yang dalam kondisi tak ingat sedikitpun apa yang pernah mereka lakukan semalam—karena candu roofies—tapi mengharuskan mereka mencari Doug yang hilang sementara ia akan menikah keesokannya. Cukuplah, panjang pula nanti cerita soal ini…

Kutata ulang lantai kamar yang berantakan lalu beranjak ke kamar mandi untuk menunaikan upacara rutin sebelum bobo. Seusainya, kebiasaanku mencek dan recheck setiap sudut ruang untuk memastikan semua dalam keadaan rapi dan aman. Ember-ember air untuk cuci-mencuci sudah terisi penuh (kebetulan rumahku jadi workshop untuk usaha laundry), dua gredel pintu belakang sudah terpasang rapat, kunci pintu depan kugantung menjauh di bagian atas agar tak terjangkau bila ada yang berniat usl mengambilnya dari kaca nako di sebelah pintu, terakhir aku sempatkan minum segelas air putih, beres!

suara mencurigakan

Aku sudah terbaring di atas ranjang tak berdipan dengan pikiran setengah sadar yang melayang ke negeri entah berantah. Mataku masih terbuka menatap satu-satunya sumber cahaya yang masuk ke kamar, datang dari ruang tengah (barat) melalui celah sempit sepanjang hamper tiga petak ubin di bawah pintu. Menurut apa yang pernah kubaca, rata-rata pria dewasa baru bisa tidur setelah lebih dari setengah jam berada di atas kasur, bahkan lebih untukku. Kebanyakan mikir kata bacaan itu, kurasa benar, setidaknya—lagi-lagi—untukku.

Tak sadar untuk berapa lamanya terbaring dengan kesadaran yang tinggal separuh, tiba-tiba saja aku tertarik pada suara yang sepertinya terdengar acap. Aku hanya ingin tahu, suara apakah itu? Semakin lama suara itu terdengar, aku mulai menyadari itu seperti suara kaca nako yang sedang diutak-atik. Pikiranku yang sudah terjaga utuh mengingatkanku pada kaca nako kamar kosong belakang yang bersebelahan (selatan) dengan kamarku, tapi benarkah? Malingkah yang sedang mengutak-atik kaca nako kamar itu? Kali berikutnya kucoba kembali mendengarkannya dengan seksama walau masih belum bisa meyakinkanku untuk menutupi kecurigaan ini. Ahh, lebih baik aku berdeham saja, kurasa itu akan sangat efektif untuk mengagetkan bila memang ada seseorang yang sedang iseng di luar sana. Eheemmm..!!

Sedikit bermanfaat memang langkah ini, setidaknya untuk beberapa detik sebelum suara itu kembali muncul acap dan semakin berirama, perasaanku sudah mulai tak nyaman dengan situasi yang berlangsung. Aku berinisiatif untuk mengintip lorong melalui celah jendela kamar. Tak terlihat sosok apapun di luar sana, tapi suaranya yang terdengar lebih jelas meyakinkanku bahwa suara itu memang sungguh kaca nako yang sedang diutak-atik, pastinya oleh seseorang! Kekhawatiranku kian bertambah, kali ini diiringi emosi dan rasa penasaran yang bercampur aduk. Sebenarnya semua jendela di rumahku memakai jerjak (=teralis) besi sebagai pelindung yang berguna, tapi demi keamanan sebaiknya aku periksa saja kamar sebelah secepatnya untuk memastikan.

Ada tiga pintu yang harus kubuka untuk sampai dan masuk ke kamar sebelah, dan semuanya kubuka dengan bantingan yang cukup keras, kuharap seseorang di luar sana—entah ada atau tidak—mengurungkan niatnya untuk macam-macam di rumahku. Kuhidupkan lampu, beberapa bed cover dan pakaian laundry yang masih setengah basah tergantung di dalam. Kuamati jendela kaca nakonya, utuh! Sukurlah, kelegaan menghadiriku sesaat. Tapi kalau bukan kaca nako kamar ini yang diutak-atik, lalu datang dari manakah suara itu? Apa mungkin asalnya dari rumah tetangga? Berpuluh pertanyaan lainnya hinggap benakku, belum mampu kujawab semuanya. Aku kembali memastikan semua sudut rumah sudah benar-benar aman setelah akhirnya aku masuk kembali ke dalam kamarku dengan perasaan yang semakin penasaran, suara yang aneh!

pengintaian

Di sebelah timur, tepat bersampingan dengan kamarku adalah sebuah jalan kecil, lebih tepatnya seperti lorong yang menjadi akses satu-satunya menuju dua buah rumah kontrakan di belakang, berujung hanya sampai di situ, buntu! Salah satu kontrakan itu sudah beberapa bulan ini kosong tak berpenghuni, sementara rumah yang satu lagi didiami sepasang suami istri penjual es kelapa di area stadion Teladan dan mempunyai dua anak lelaki yang masih duduk di bangku SMP. Inilah yang membuat lorong tersebut jarang sekali dilewati kecuali hanya oleh penghuni rumah kontrakan belakang, sesekali oleh anak-anak kecil yang sedang bermain petak umpet di sana.

Lorong itu hanya selebar dua orang dewasa yang bertubuh sedang (kurus boleh), lalu ada pagar yang membatasi rumahku dengan rumah tetangga, serta sebidang kecil halamannya yang sedikit lebih sempit dari lorong. Mudahnya, jarak di antara kedua rumah berkisar dua meter, lebih sikitlah (=sedikit). Ada lampu yang terpasang di lorong itu tapi sepertinya sudah lama mati dan tak pernah diganti dengan yang baru oleh si pemilik dan si penyewa rumah kontrakan. Mungkin ada lima belas hingga dua puluh meter jarak dari jalan utama menuju jendela kamarku sehingga tak cukup jelas bagi orang yang lewat untuk melihat keadaan di lorong tersebut di malam hari, apalagi tanpa penerangan.

Sudah lima menit aku berdiri di atas kasur mengamati lorong itu, belum kudapati tanda-tanda dari luar sana. Aku perhatikan separuh bawah pagar pembatas itu adalah dinding kecil setinggi lutut orang dewasa, bagian atas berpagar bersi berwarna hitam kelam setinggi dada atau pangkal leher. Menit demi menit berlalu dalam helaan nafas yang kuatur pelan, hati kecilku berdoa semoga insting ini hanyalah karena kekhawatiran saja, tak jadi kenyataan. Lima menit lagi berlalu dalam kesunyian.

Tiba-tiba mataku menangkap sepasang kaki bercelana hitam mengendap pelan menerobos kegelapan lorong, tepat di hadapanku, hanya terpisah lapisan dinding kamar dan jendela. Sesaat aku terdiam menahan nafas, jantungku berdegup kencang dan keras, kekhawatiranku terjawab diiringi perasaan takut dan bingung yang datang dalam kepanikah. Usai dua langkah panjang, sepasang kaki itu menaiki dinding pagar pembatas dan hilang dari pandanganku. Sempitnya celah jendela menghalangiku untuk melihat lebih jelas, pantas saja aku tak melihat apapun sewaktu pertama kali aku mengintip. Lalu terdengar kembali suara yang tak asing lagi di telingaku. Aku tahu kini, itu pasti datang dari kaca nako jendela tetanggaku! Semakin kencang detak jantungku dilanda panik, haruskah aku berteriak sekarang? Atau…?

memikirkan strategi

Langkah pertama yang harus kuatasi adalah menghilangkah kepanikan yang menimpaku saat ini, aku harus tenang. Kuatur kembali nafas dengan helaan panjang, pelan. Kalau bukan dalam situasi ini, mungkin aku sudah menertawakan diriku sendiri yang ketakutan padahal orang yang ada di luar sanalah yang menjadi pencurinya. Perlahan, akal sehatku pun pulih kembali dan mulai berpikir cepat untuk mencari langkah yang terbaik. Aku teringat kisah temanku di lain tempat. Saat itu ia memergokin dan membatalkan aksi pencuri di rumah tetangganya, sayangnya si pencuri tak tertangkap. Beberapa hari kemudian justru rumahnya sendiri yang dibongkar oleh para pencuri, beruntung mereka sekeluarga baik-baik saja. Ternyata maling juga bisa mempunyai motif balas dendam dalam aksinya. Mengingat kisah itu, akankah aku akan membiarkan pencuri ini menikmati aksinya?

Sembari terus berpikir, di dalam samar aku kembali menangkap bayangan gelap tubuh seseorang yang tengah menunduk, bahkan sepertinya dua orang. Kali ini bayangan itu berada di halaman kecil rumah tetanggaku, itu berarti mereka berdua atau bertiga, atau bisa jadi lebih tanpa sepengetahuanku. Seandainya saja di kamarku ini ada kelewang (=golok) sebagai peganganku bila ingin menghadapi gerombolan pencuri ini, aku tak yakin bisa melawan mereka bertiga dengan tangan kosong, sendirian pula. Sayang juga tak ada kayu atau balok panjang lainnya. Untuk keluar kamar juga tak mungkin, akan berisik nantinya dan malah membuat mereka menyadari keberadaanku.

Aku menyesalkan tak pernah menyimpan nomor HP para tetangga karena memang belum pernah ada kebutuhannya hingga saat ini. Kalau saja aku memilikinya, aku bisa mengirimkan sms kepada mereka, memberitahukan keadaan yang sedang terjadi dan meminta mereka untuk mencegat gerombolan pencuri ini di jalan utama sambil menunggu aba-aba dariku. Aku yakin sekali cara ini pasti bisa meringkus gerombolan siberat siwalan. Geram…!!

saatnya beraksi

Tetanggaku ini bermarga Raja Gukguk (Batak). Setahuku, terdapat empat atau lima orang yang mendiami rumah mereka. Ada sepasang orangtua, mungkin setua kedua orangtuaku. Mereka ini termasuk orang yang sepertinya taat beribadah dan rajin pergi ke gereja, sering pula kudengar suara nyanyian rohani dari dalam rumah mereka. Lalu ada anak perempuan mereka yang bekerja dan sudah menikah, tapi jarang sekali aku melihat keberadaan suaminya di rumah, entah karena pekerjaan di luar kota atau memang tinggal di tempat lain. Dan terakhir seorang perempuan lagi yang masih duduk di bangku SMA, cucu dari pasangan orangtua tersebut.

Dengan kondisi rumah tanpa ada kehadiran lelaki dewasa di dalamnya, perasaanku menjadi iba, tak tega membayangkan apa yang bakal terjadi kalau saja gerombolan pencuri itu bukan hanya ingin mengambil harta benda yang ada. Atau membayangkan keluarga tersebut memergokin pencuri yang kemudian bisa menjadi sadis terhadap mereka karena panic dan kalaf. Bagaimana bila hal itu yang menimpa keluargaku, kedua orangtua dan adik kecilku Nisa? Memikirkan kegilaan itu memompa nyali dan keberanianku seketika, tak ada alasan lagi untuk gentar pada gerombolan siberat ini, beuh!

Dari segala apa yang terlintas di benak dalam menit-menit yang terasa panjang, aku sudah menentukan langkah yang terbaik. Kutarik kembali nafas panjang, bismillah, kupukul kencang jendela kamarku sambil dengan lantang berteriak, “Woii, pergi kalian ba**saaat!”. Bergegas kubuka jendela untuk melihat keadaan di luar, namun secepat itu pula suara langkah kaki seribu gerombolan pencuri tersebut kencang terdengar. Aku bahkan tak sempat lagi melihat sosok mereka karena memang butuh waktu untuk membuka dua lapis jendela kamarku. Yang bisa kulakukan hanya berteriak kata sakti “Maliiing!”, lagi dan lagi sampai kupastikan memang tak ada lagi gerombolan pencuri itu tersisa di sekitar rumah. Sungguh perasaan lega mengalir deras di dadaku, aku telah berhasil menggagalkan sebuah aksi kejahatan, walaupun belum bisa menangkap gerombolan pencurinya.

Jeritanku itu tak cukup kencang untuk membangunkan penduduk sekampung, tapi langsung membuat ibu dan adik lelakiku terjaga dari tidurnya. Mereka turut bergabung bersama melihat TKP dari balik jendela kamarku. Cukup lama juga menunggu tetangga sebelah bangun dan akhirnya menyadari bahwa rumah mereka hendak dibobol gerombolan pencuri. Sudah ada dua kaca nako jendela sebelah kiri yang terlepas dari tempatnya. Sebenarnya itu sudah sangat cukup bagi pencuri untuk dapat masuk ke dalam rumah karena memang jendela itu tak dipasangi teralis, sukurlah hal itu belum sempat terlaksana.

menuntaskan misi

Syahdu azan Subuh berkumandang, ayahku sudah dari tadi ke masjid untuk berjamaah. Kuusaikan pagi ini dalam dua rakaat yang singkat, kantukku sudah terasa perih di pelupuk mata. Sorenya, kabar kejadian itu telah tersebar di telinga para tetangga dekar. Tak besar reaksi yang muncul, biasa saja. Mungkin akan terdengar lebih seru kalau saja gerombolan pencuri itu berhasil merampok rumah, sukurlah tidak! Atau akan sangat lebih heboh bila aku dan para tetangga lain berhasil meringkus gerombolan siberat itu, lain kalikah, mudah-mudahan!

Ada dua hal yang pasti kualami pasca kejadian itu. Pertama, aku jadi agak takut untuk tidur cepat dalam beberapa hari ini. Terpaksa juga meronda sendiri di dalam rumah selama masih bisa kutahan kantuk. Dini hari merupakan waktu yang sangat ideal bagi pencuri untuk beraksi sebab di saat itu pula puncak lelap tidur bagi kebanyakan orang. Kedua, aku jadi mudah curiga terhadap orang lain, terutama pada mereka yang tidak kukenal, atau pada orang yang gayanya tak bersahabat. Tapi sukurlah kedua hal itu hanya berlangsung sesaat.

Jendela rumah tetanggaku kini sudah dipasangi sepotong seng, tentunya pencuri harus berpikir panjang untuk meredam suara seng yang nyaring bila ingin mengulang kembali aksinya. Atau mungkin gerombolan siberat itu akan melancarkan aksi balas dendamnya kepadaku yang sudah pernah menggagalkan mereka sebelumnya? Aku tak berharap hal itu terjadi, jangan sampailah! Sungguh ini menjadi pengalaman berharga…

—habis bah—

———————————————————————–

*Pernah ditayangkan di KoKi dan Kompasiana

Menikmati Keceriaan Si Kecil Di Penghujung Harinya

Waktu tidur adalah penghujung hari bagi orangtua untuk menikmati interaksi dengan anak-anak. Di waktu ini pula, sebenarnya orangtua masih bisa menikmati keceriaan si kecil yang asyik bermain, sendiri saja, berbisik di atas kasur, di tengah kegelapan kamar, menunggu kantuk datang merobohkan pertahanan, hingga akhirnya tertidur dengan mukanya yang polos, dan pulas.

Hal itu yang penulis rasakan tadi malam, saat memilih tuk memenuhi ajakan gadis kecilnya, menemani ia tertidur, menunda sejenak hasrat membuka laptop.

——————————

Yah, sini yaah!” teriak Nadine memelas kepadaku.

Nadine sudah cuci kaki?” kuajukan pertanyaan itu sambil mendekatinya, memeriksa kedua telapak kakinya tanpa menunggu ia menjawab.

Udah.” jawaban Nadine renyah, aku tersenyum membenarkannya.

Sekarang bobolah ya, adek Dia sudah bobo tuh!” hatiku lega mengatakan hal itu, menatap Nadia yang telah tertidur lelap di samping kakaknya, hanya dibatasi sebuah guling untuk menjaganya dari tidur Nadine yang suka grasak grusuk. Sudah berapa malam ini Nadia agak rewel karena batuknya yang tak kunjung sembuh.

Kami sekeluarga kecil ini masih menikmati tidur sekamar. Dengan dua kasur; satu single kasur kecil untukku, dan satu spring bed besar tanpa dipan untuk sang istri dan anak-anak. Kedua gadis kecilku tidur memanjang, berbagi lebarnya spring bed. Sementara bunda mereka tidur melebar membelakangi kepala kedua gadisku tersebut. Untuk malam ini, posisi bunda kugantikan sesaat.

Waktu jam dinding baru menujukkan pukul setengah sembilan lewat sedikit. Lampu kamar telah dipadamkan istriku, berganti dengan lampu tidur berbentuk beruang kecil yang lucu, menempel pada colokan listrik di dinding. Televisi di kamar juga telah mati, aku yang melakukannya. Tumben, kali ini Nadine menerima keadaan tersebut tanpa mengeluarkan protes.

Kini aku telah berbaring, menyampingkan tubuh ke arah kedua gadisku, dan berpura-pura tidur. Ini harus dilakukan untuk menghindari interaksi yang berkepanjangan dari Nadine. Kalau gadisku ini diajak ngobrol dan bermain, ia akan dengan senang hati menemani sampai larut malam sekalipun.

Di tempatnya, kulihat Nadine sedang berbisik, entah apa yang ia ucapkan karena tak cukup jelas untuk sampai ke telingaku. Bisikannya cukup panjang, seakan ia sedang bercerita tentang sesuatu yang amat menarik. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

Lalu ia berbalik, memindahkan posisi tidurnya di atas guling yang membatasinya dengan Nadia. Semoga saja Nadine tidak mengganggu tidur si adik, sehingga aku tidak perlu menegurnya, merusak akting tidurku yang sudah berjalan hampir sempurna ini.

Kembali Nadine berbalik, dan berbalik lagi, entah untuk yang ke-berapa kalinya, hingga akhirnya kembali pada posisinya yang semula, membelakangi tubuhku. Kemudian Nadine bernyanyi, kali ini dengan suara yang pelan, tidak berbisik. Nadine juga bertepuk tangan, masih dengan pelan, walau tak selaras dengan irama lagunya. Aku coba menangkap, lagu apa gerangan yang dinyanyikan gadis kecilku itu? Ternyata lagu kesukaannya, “Cicak-cicak di Dinding”.

Tak sampai habis satu lagu ia nyanyikan, Nadine berucap sendiri: “Nyanyi lagu apa?” dengan lafaz yang masih belum sempurna. Kembali ia bersenandung, kali ini terdengar lagu “Becak”, hanya beberapa bait saja, mungkin karena ia tidak begitu hafal menyanyikannya sendiri, lalu balik lagi ia menyanyikan lagu “Cicak-cicak di Dinding”, tapi kali ini ia senandungkan liriknya dengan lengkap. Nyanyian itu kemudian ia tutup dengan ucapan “Horeee!” beserta tepukan tangan yang panjang.

Memperhatikan gadis kecilku itu ngomong sendiri, nyanyi sendiri, tepuk tangan sendiri, aku hampir tak bisa menahan tawa melihat kelucuannya. Dan mungkin Nadine menyadarinya, ia berbalik dan mengarahkan wajahnya tepat di hadapanku. Terburu-buru aku menutup mulut dan mata, mengintip reaksi Nadine lewat sedikit celah mata yang kubuka. Sepertinya ia bingung, tak menemukan diriku seperti yang ia harapkan. Dengan sabar ia masih menatapku. Tapi aku tidak bisa terlalu lama bersabar diam seperti ini, tawaku tadi masih bersisa dalam mulut yang terkulum, bisa meledak setiap saat. Beberapa detik kemudian, dari celah intipanku kulihat Nadine menggaruk kepalanya, masih dengan raut wajahnya yang polos serta bingung, dan kali itulah aku tidak bisa lagi menahan mulutku terkatup, aku melepaskan tertawa, Nadine pun ikut tertawa kencang.

Kuciumi muka dan tubuh Nadine, menutupi rasa malu ini karena telah kalah dalam permainan ayah dan anak, tak kuat aku menahan tawa, tak kuat aku berpura-pura. Kekalahanku yang menceriakan Nadine di penghujung harinya, menambah waktu bermainnya lebih panjang lagi. Kembali aku menyuruhnya untuk tidur, kembali kami meneruskan permainan di penghujung hari, seakan tak pernah berakhir.

——————————

Selalu nikmat melewati waktu bersama anak-anak… Semoga bermanfaat!

Gadis Kecilku Bisa Melihat Mahkluk Halus?

Nadine, usianya baru genap 26 bulan (2 tahun 2 bulan) hari Ahad kemarin. Gadis kecil ini adalah anak sulungku, kakak dari Nadia, adiknya yang baru saja lahir pada 26 September tahun lalu. Ini kali kedua aku bercerita tentang Nadine lewat artikel di Kompasiana. Kalau pada sebelumnya tentang bagaimana bahagianya aku melihat keceriaan gadis kecilku ini bila sudah bergoyang mengikuti irama sebuah lagu, maka pada kesempatan ini aku agak sedikit sedih dan bingung untuk menceritakan tentang “ketakutan” Nadine belakangan ini.

Kisahnya dimulai di suatu malam, beberapa hari yang lalu, ketika istriku sedang menemani Nadine menuju tidurnya. Gadis kecilku ini memang agak susah untuk ditidurkan, harus melewati beberapa proses yang agak panjang hingga akhirnya ia terbuai dengan kantuk dan lelah tubuhnya. Biasanya, jurus terakhir yang kami keluarkan adalah mematikan televisi di kamar. Kalau cuma lampu dipadamkan itu sudah menjadi kebiasaan kami di setiap malam, tidak mempan lagi untuk menaklukkannya. Tapi kalau lampu dan televisi sudah off, maka biasanya itu berhasil, walaupun sesekali diikuti dengan rengekan tangisnya.

Lalu bertanyalah Nadine pada Bundanya, begitu ia memanggil istriku, “Apa itu Nda?” Sambil jari telunjuknya mengarah pada pintu kamar.

Istriku tidak melihat apa-apa selain hanya ada tumpukan pakaian yang tergantung di sana, lalu menjawab “Ga ada apa-apa sayang, cuma pakaian.

Takut Nadine… apa itu Nda?” Lagi-lagi Nadine bertanya pada Bundanya, tapi kali ini dengan mimik wajahnya yang ketakutan.

Kembali istriku melihat ke arah belakang pintu kamar, mengamati dengan lebih seksama, mencoba mencari tahu objek apa yang sebenarnya diperhatikan oleh gadis kecilnya hingga ia ketakutan. Kali ini tampak oleh istriku beberapa helai selendang tipis yang bergoyang-goyang karena tertiup hembusan angin dari kipas listrik yang terdapat di dalam kamar. “Oooo… itu jilbab Bunda nak, goyang dia karena ketiup angin.

Takut Nadine Nda,” cepat gadis kecilku menangkap tubuh Bundanya, mengadukan perihal yang masih saja mengusik perasaannya. “Gak ada-apa nak… bobolah ya.” Tak lama kemudian, Nadine telah terlelap tidur dalam pelukan Bundanya.

Ketika akhirnya aku masuk ke dalam kamar, istriku menceritakan kepadaku tentang hal itu. Aku hanya tersenyum saja mendengarkan akhir penuturannya. Tidak ada bahasan lebih panjang lagi dari obrolan kami malam itu karena aku telah sibuk dengan kegiatan yang lebih mengasyikkan, berburu nyamuk!

Selang beberapa hari kemudian dari kejadian tersebut, tepatnya pada malam Senin, aku sedang menemani Nadine di ruang keluarga, menghindarkannya untuk tidak masuk ke dalam kamar agar Bundanya bisa dengan leluasa menidurkan si adik kecil, Nadia. Kebetulan aku juga kangen dengan Nadine, karena seharian ia pergi menemani Bundanya pergi ke sebuah acara arisan, sementara aku lebih memilih untuk tinggal di rumah saja bersama Nadia. Di depan televisi yang kami acuhkan, habis tubuhku dijadikan Nadine sebagai mainan pada malam itu, mulai dari diiinjak-injak, dijadikan perosotan, dienjot-enjot, ditindih sampai digigit olehnya, fuihh!

Di tengah waktuku bermain bersama Nadine, gadis kecilku itu mendadak ketakutan dan medekapku erat tubuhku yang sedang duduk di hamparan karpet, “Takut Nadine Yah.

Jujur saja aku bingung mendapatkannya seperti ini, padahal tidak ada siapa-siapa lagi selain hanya ada kedua orangtuaku yang sedang duduk di kursi santai sambil menonton acara di televisi. Yai dan Nyai, begitu Nadine dan Nadia memanggil kakek-neneknya. Belumlah sempat aku menanyakan, Nadine kembali berucap “Apa itu Yah?” mengacung jari mungilnya menunjuk ke arah siku atau ujung dinding bagian atas ruangan keluarga tempat kami berada.

Aku tidak melihat ada sesuatu apapun yang perlu anakku takutkan di tempat yang ia tunjuk. Tapi yang membuatku lebih penasaran, kenapa ia menunjuk ke arah atas dinding?”Gak ada apa-apa Nadine, emang Nadine takut apa?

Apa itu Yah? Takut Nadine!” kembali Nadine menunjuk, tidak salah lagi arahnya memang ke bagian atas dinding. Serrrr… bulu-bulu halus di tanganku seketika langsung berdiri, darah di kepala ini sepertinya terserap jatuh ke tanah, membayangkan “sosok apa” yang dilihat anakku itu, tapi tidak oleh penglihatan kami.

Aku bingung, Yai dan Nyai yang berada di ruangan itu juga ikutan bingung, dan akhirnya kami memilih menenangkan Nadine untuk menghilangkan perasaan takutnya. Sukurlah, ketakutan Nadine tak berlangsung lama. Setelah itu, ia telah asik kembali bermain dengan kuda plastiknya. Aku yang masih penasaran dengan ketakutan Nadine, pergi ke dalam kamar untuk menceritakan hal ini pada istriku yang langsung beranjak keluar untuk menemui Nadine.

Nadine lihat apa nak? Takut apa Nadine?” ucap istriku yang tidak langsung digubris oleh Nadine yang masih sibuk dengan mainannya. Kembali istriku mengulang pertanyaannya pada Nadine, kali ini dijawab gadis kecilku ini “Ebang.

Apa Nadine, terbang? Sudah terbang dia?” istriku bertanya lagi.

Ebang Nda, suuuuuu” dengan ceria Nadine menjulurkan kedua tangannya ke depan, lalu berlari kecil, bergaya seperti sedang terbang. Tidak ada lagi ketakutan di wajahnya, semua telah kembali normal dalam sekejap.

Tinggallah kini aku dan istri yang masih bingung memikirkan kejadian ini. Istriku kemudian mengaitkan kejadianku ini dengan kejadiannya pada waktu itu di dalam kamar. “Apa anak kita bisa melihat makhluk halus ya Bun?

———————————————————————–

*Ditayangkan juga di Kompasiana