Titip Salamku Untuk Jakarta

Untuk saudaraku (perantau) yang sedang menuntut ilmu di kota Jakarta…

Dulu, aku sama sepertimu, datang dari daerah, pergi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Alasanmu mungkin beragam, mungkin pula berbeda dengan alasanku dulu. Mungkin kamu diterima di PTN ternama karena kecerdasanmu, mungkin pula orangtuamu kaya & memilihkan kampus swasta terbaik untukmu di sini. Sedangkan aku… aku pergi ke Jakarta untuk menghindari kehidupan remajaku yang sedikit nakal. Dulu aku gemar berjudi kecil-kecilan, walau nilai raportku di sekolah selalu masuk ranking 10 besar. Dulu aku gemar menghisap ganja, walau sejujurnya aku tak perlu membelinya. Hingga akhirnya aku diterima di salah satu institut Negeri di pinggiran Jakarta, kuyakin bukan karena kecerdasanku, hanya karena sedikit keberuntunganku saat itu.

Saudaraku…

Tempat tinggalmu di Jakarta juga pastinya beragam. Mungkin kamu sepertiku dulu, tinggal di kamar kost yang sederhana & sempit, sekedar cukup untuk menampung badan ini melepas lelah, sekedar cukup untuk menaruh buku-buku yang berserakan di lantai, sekedar cukup untuk bersantai sambil menikmati seduhan kopi & sebatang (mungkin lebih) rokok, sekedar cukup untuk bermain gitar & domino bersama kawan-kawan yang senasib. Atau mungkin kamu tinggal di kost-an elite, apartemen & semacamnya, yang menyediakan air panas sebagai fasilitasnya, yang menyediakan parkir untuk kendaraanmu, lagi-lagi pemberian dari orangtuamu yang mungkin seorang pejabat, atau pemilik kebun kopi & sawit. Mungkin juga kamu lebih memilih tinggal bersama sanak familimu.

Saudaraku…

Lalu apa yang engkau akan lakukan setelah lulus dari kuliahmu nanti? Akankah engkau sepertiku dulu, yang enggan meninggalkan Jakarta karena pesonanya yang sungguh memikat, atau karena semua temanmu kebanyakan berada di sana, atau karena ingin mencoba peruntungan lebih lanjut lagi dalam dunia lapangan pekerjaan? Mungkin engkau tergiur dengan gaji di Jakarta yang jauh lebih besar daripada gaji di daerah, mungkin engkau juga tertarik dengan gaya hidup di Jakarta yang glamour, penuh dengan kehidupan malamnya yang ceria berwarna. Atau mungkin dirimu telah memiliki kekasih di sana, dan rasanya dunia akan runtuh tanpanya di sisimu.

Apapun alasanmu nanti untuk tinggal lebih lama lagi di Jakarta, kuharap kau mau mempertimbangkannya lagi, tapi kali ini, lakukanlah dengan amat bijak! Dan kali ini kuyakin dirimu pasti tahu—bukan sekedar mungkin—sebagian besar potret & realitas kota Jakarta. Engkau pasti tahu derita jalanan di sana yang senantiasa dihadapkan pada persoalan kemacetan, engkau juga pasti tahu betapa mahalnya biaya hidup di sana, engkau pasti tahu siklus banjir ibukota. Atau perlu kutambahkan lagi saudaraku? Tentang betapa dahsyatnya kepadatan penduduk di sana yang telah menyentuh angka 15 ribu jiwa per km², tertinggi di negara kita ini. Atau tentang betapa tidak layaknya lagi kota Jakarta itu dihuni oleh lebih dari 10 juta jiwa dengan segala permasalahan infrastruktur, polusi & tetek bengek lainnya.

Saudaraku…

Dengarlah sedikit cerita hidup & keseharianku yang kini telah meninggalkan kota Jakarta. Bangun pagi usai menunaikan sholat Shubuh, aku masih punya banyak waktu luang untuk beraktifitas lainnya. Aku masih bisa menyimak sajian berita dari televisi sambil menikmati secangkir teh manis dan beberapa potong ubi goreng. Atau kalau saja aku mau rajin berolahraga, sangat memungkinkan bagiku untuk jogging atau sekedar berjalan santai menikmati udara segar kotaku. Dan yang paling menyenangkan di setiap pagi adalah, aku masih bisa menyambut bangunnya anak-anakku dari peraduan mereka, memandikan mereka, mendandani mereka, menyuguhkan sarapan kepada mereka & menciumi wangi tubuh mereka. Ketika aku akhirnya harus pergi meninggalkan mereka, selalu ada waktu bagi anak-anakku untuk mencium tanganku, melambaikan tangan kepadaku sambil sesekali berteriak “ti-ti ayah”.Lalu.. perjalananku ke kantor hanya cukup memakan waktu 5-15 menit saja. Aku bisa bersantai untuk mandi, berpakaian & menyiapkan segala sesuatunya cukup 1 jam sebelum jam kerjaku tiba. Sorenya… pukul 17.05-17.15 aku telah berada di rumahku kembali, menikmati kembali cengkrama & canda tawa bersama keluarga kecilku yang telah menunggu. Dan di malam hari… aku tak harus menyegerakan tidurku, aku masih bisa ngobrol santai dengan istriku, aku masih punya waktu luang untuk membuka blog setelah anak-anakku terlelap dalam tidur mereka, aku masih bisa berganti tugas dengan istriku mencuci habis dot-piring-gelas-sendok-garpu kotor di wastafel. Intinya saudaraku… aku bisa menikmati hari-hariku dengan tersenyum manis.

Saudaraku…

Ceritaku tersebut mungkin akan sangat susah untuk didapatkan bila engkau lebih memilih hidup di kota Jakarta. Percayalah… aku pernah mengalaminya, dan itu kualami ketika masa lajangku, tanpa istri & tanpa anak-anak! Aku pernah mengalami harus bangun jam 5 pagi, mandi dengan bergegas, Shubuh sebentar, lalu keluar rumah untuk menunggu bus kota yang telah penuh sesak isinya oleh manusia, mustahil untuk mendapatkan tempat duduk kalau bukan karena mukjizat, dan itu harus kulakukan rutin sebelum pukul setengah 7 pagi bila tak ingin terlambat masuk kantor. Baru masuk kantor badanku telah berasa letih karena harus berdiri 1-2 jam di dalam bus. Datanglah sore, kemacetan jalanan & letihnya badan serta pikiran suka membuatku enggan untuk pulang tepat waktu, terkadang aku lebih memilih Maghriban terlebih dahulu di masjid samping kantor, berharap setelah itu perjalanan pulangku akan sedikit lebih tenang, walaupun pada kenyataannya tidak jauh berbeda. Tiba di kost-an, waktu telah menunjukkan pukul 20.30 hingga 21.00, rasanya ingin langsung menjatuhkan badan ini ke tempat tidur, walau sesekali kusempat-sempatkan untuk menghibur diri pergi ke warnet atau sekedar bermain gitar.

Saudaraku…

Sungguh aku masih ingin bercerita lebih banyak untukmu, tapi biarlah kucukupkan hingga di sini, memberikan kesempatan untukmu berpikir arif. Kuyakin dirimu cerdas untuk memilih langkahmu ke depan. Dan apapun keputusanmu itu, kudoakan yang terbaik untukmu, kudoakan engkau bisa berhasil melaluinya, dan kudoakan engkau menjadi orang yang sukses, bermanfaat bagi orang lain tentunya.Titip salamku untuk Jakarta!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s