Surau Ini Merindukan Soekarno-Hatta

Di tengah euforia & obrolan hangat masyarakat Indonesia menyambut film Soekarno yang kini beredar di bioskop-bioskop tanah air, maka ini mungkin waktu yang tepat untuk menceritakan sedikit fakta tentang Pahlawan Nasional ini—dan beberapa pahlawan lainnya—dari perspektif & pengalaman para pengurus serta jama’ah surau di kampungku.

Adalah surau kami kerap dikunjungi para pahlawan yang berasal dari berbagai daerah di penjuru tanah air ini. Tidak main-main, sebut saja mereka di antaranya adalah Kapitan Pattimura dari Maluku, Pangeran Antasari dari Banjarmasin, Tuanku Imam Bondjol dari Sumatera Barat, dan Sultan Mahmud Badaruddin II yang datang dari kota pempek Palembang.

Dari pahlawan-pahlawan tersebut di atas, adalah Kapitan Pattimura, Pangeran Antasari & Tuanku Imam Bondjol yang senantiasa kerap berkunjung. Kehadiran para pahlawan ini tak usah lagi diragukan, kesetiaan mereka dalam mengikuti setiap acara adalah sumbangsih yang tak pernah berhenti mengalir. Trio pahlawan ini juga sangat dikenal membumi dengan penduduk kampung kami yang sebagian besar warganya berasal dari kasta Waisya & Sudra.

Sosok lain yang juga masih terbilang rajin menyambangi surau kami adalah Sultan Mahmud Badaruddin II. Pahlawan yang satu ini terkadang datang dalam baju ungu kebesarannya, walau sesekali ia hadir beda mengenakan pakaian berwarna merah muda (pink).

Sungguh, surau ini merindukan sosok-sosok pahlawan lain untuk hadir di tengah-tengah jama’ah. Dan apabila ditanya sosok manakah yang paling dirindukan, maka jawabannya adalah Soekarno dan Hatta. Kedua tokoh ini memang selalu terlihat bersama dalam segala aktivitas mereka. Wajar saja, mereka berdua adalah tokoh kunci Proklamasi Indonesia pada tahun 1945.

surau ini merindukanmu wahai Soekarno-Hatta

untuk memugar kembali dinding-dinding yang telah reot dimakan zaman

untuk menghidupkan kembali tradisi santri yang kian pupus

agar tak pudar ayat-ayat suci terangkai

agar tak roboh surau ini terbingkai

agar ummat tak jadi onggokan bangkai

Sholat Isya’ baru saja menutup aktivitas surau di malam ini, hanya satu shaf kurang yang terisi oleh jama’ah, dan sebagian dari mereka telah menyusuri jalan pulang ke gubuknya masing-masing, menyisakan sebagian lagi yang sedang asyik berdzikir & sholat sunnah. Seorang bapak tua berjalan menuju kotak amal yang berada di pintu masuk/keluar surau, mengambilnya & menghadapkannya pada beberapa orang lain yang merupakan sosok-sosok tetua kampung kami, sekaligus pengurus surau ini. Dan mereka pun membukanya…

Tiba-tiba terdengar jeritan “Ada Soekarno-Hatta!”, seseorang di antara tetua tersebut mengangkat tinggi tangannya untuk menunjukkan keberadaan sosok yang sangat kami nantikan.

Foto: 100 Ribu Rupiah

Sumber Foto: Google

Sontak seluruh jama’ah yang masih berada di surau mengucapkan “Alhamdulillaaaaaah”. Akhirnya Soekarno-Hatta hadir malam ini di surau kami yang tercinta, di tengah tumpukan pahlawan-pahlawan kami yang lain, dengan aroma tubuhnya yang wangi & senantiasa elok, ia berikan keceriaan yang telah teramat jarang kami rasakan.

Semoga esok, engkau akan lebih sering hadir menceriakan hari-hari kami wahai Soekarno-Hatta… semoga, surau ini akan senantiasa merindukanmu!

————————————————

* surau = musholla, masjid

* waisya = petani, nelayan & semacamnya

* sudra = pelayan bagi kasta atas

* shaf/shof = barisan jama’ah/ma’mum dalam sholat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s